Senin, 26 Januari 2009

MALAIKAT JUGA TAHU

Laki-laki dan perempuan itu terbaring di atas rumput, menatap bintang yang bersembulan dari carikan awan kelabu. Saat yang paling tepat untuk bermalam minggu di pekarangan.

Perempuan itu hafal rutinitas ketat yang berlaku di sana. Laki-laki di sebelahnya memangkas rumput setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Mencuci baju putih setiap Senin, baju berwarna gelap hari Rabu, baju berwarna sedang hari Jumat. Menjerang air panas setiap hari pukul enam pagi untuk semua penghuni rumah. Menghitung koleksi sabun mandinya yang bermerk sama dan berjumlah genap seratus, setiap pagi dan sore.

Banyak orang yang bertanya-tanya tentang persahabatan mereka berdua. Orang-orang penasaran tentang topik obrolan mereka dan apa kegiatan perempuan itu selama berjam-jam di sana. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa ibu dari laki-laki itu, yang mereka sebut Bunda, sangat pandai memasak. Rumah Bunda yang besar dan memiliki banyak kamar adalah rumah kos paling legendaris. Bahkan ada ikatan alumni tak resmi dengan anggota ratusan, dipersatukan oleh kegilaan mereka pada masakan Bunda. Setiap Lebaran, Bunda memasak layaknya katering pernikahan. Terlalu banyak mulut yang harus diberi makan. Namun jika cuma akses tak terbatas atas masakan Bunda yang jadi alasan persahabatan mereka berdua, orang-orang tidak percaya.

Laki-laki itu, yang biasa mereka panggil Abang, adalah makhluk paling dihindari di rumah Bunda, nomor dua sesudah blasteran Doberman yang galaknya di luar akal tapi untungnya sekarang sudah ompong dan buta. Abang tidak galak, tidak menggigit, tapi orang-orang sering dibuat habis akal jika berdekatan dengannya. Setiap pagi dia membangunkan seisi rumah itu dengan ketukannya di pintu dan secerek air panas untuk mandi. Dia menjemput baju-baju kotor dan bisa ngadat kalau disetorkan warna yang tidak sesuai dengan jadwal mencucinya. Sekalipun sanggup, Bunda tidak bisa memasang pemanas air bertenaga listrik atau sel surya. Anaknya harus menjerang air. Secerek air panas dan mencuci baju sewarna adalah masalah eksistensial bagi Abang. Mengubah rutinitas itu sama saja dengan menawar Bumi agar berhenti mengedari matahari.

Bukannya tidak mungkin berkomunikasi wajar dengan Abang, hanya saja perlu kesabaran tinggi yang berbanding terbalik dengan ekspektasi. Dalam tubuh pria 38 tahun itu bersemayam mental anak 4 tahun, demikian menurut para ahli jiwa yang didatangi Bunda. Sekalipun Abang pandai menghafal dan bermain angka, ia tak bisa mengobrolkan makna. Abang gemar mempreteli teve, radio, bahkan mobil, lalu merakitnya lagi lebih baik dari semula. Dia hafal tahun, hari, jam, bahkan menit dari banyak peristiwa. Dia menangkap nada dan memainkannya persis sama di atas piano, bahkan lebih sempurna. Namun dia tidak memahami mengapa orang-orang harus pergi bekerja dan mengapa mereka bercita-cita.

Perempuan di pekarangan itu tahu sesuatu yang orang lain tidak. Abang adalah pendengar yang luar biasa. Perempuan itu bisa bebas bercerita masalah percintaannya yang berjubel dan selalu gagal. Tidak seperti kebanyakan orang, Abang tidak berusaha memberikan solusi. Abang menimpali keluh kesahnya dengan menyebutkan daftar album Genesis dan tahun berapa saja terjadi pergantian anggota. Gerutuannya pada kumpulan laki-laki brengsek yang telah menghancurkan hatinya dibalas dengan gumaman simfoni Bach dan tangan yang bergerak-gerak memegang ranting kayu bak seorang konduktor. Abang tidak bisa beradu mata lebih dari lima detik, tapi sedetik pun Abang tidak pernah pergi dari sisinya. Ia pun menyadari sesuatu yang orang lain tidak. Laki-laki di sampingnya itu bisa jadi sahabat yang luar biasa.

Barangkali segalanya tetap sama jika Bunda tidak menemukan surat-surat yang ditulis Abang. Untuk pertama kalinya, anak itu menuliskan sesuatu di luar sejarah grup musik art rock atau komposisi musik klasik. Ia menuliskan surat cinta—kumpulan kalimat tak tertata yang bercampur dengan menu makanan Dobi, blasteran Doberman yang tinggal tunggu ajal. Tapi ibunya tahu itu adalah surat cinta.

Barangkali segalanya tetap sama jika adik Abang, anak bungsu Bunda, tidak kembali dari merantau panjang di luar negeri. Sang adik, kata orang-orang, adalah hadiah dari Tuhan untuk ketabahan Bunda yang cepat menjanda, disusul anak pertamanya, seorang gadis yang bahkan tak sempat lulus SD, meninggal karena penyakit langka dan tak ada obatnya, lalu anak keduanya, Abang, mengidap autis pada saat dunia kedokteran masih awam soal autisme sehingga tak pernah tertangani dengan baik. Anak bungsunya, yang juga laki-laki, menurut orang-orang adalah figur sempurna. Ia pintar, normal, dan fisiknya menarik. Ia hanya tak pernah di rumah karena sedari remaja meninggalkan Indonesia demi bersekolah.

Barangkali sang adik tetap menjadi figur yang sempurna jika saja ia tidak memacari perempuan satu-satunya yang dikirimi surat cinta oleh kakaknya. Bunda tahu, secerek air panas dan cucian berwarna seragam sudah resmi bergandengan dengan rutinitas lain: perempuan itu. Dan bagi Abang, rutinitas bukan sekadar hobi, melainkan eksistensi.

Pertama kali Bunda mengetahui si bungsu dan perempuan itu berpacaran, Bunda langsung mengadakan pertemuan empat mata. Ia memilih perempuan itu untuk diajak bicara pertama karena dipikirnya akan lebih mudah.

'Bagi kamu pasti ini terdengar aneh. Mereka dua-duanya anak Bunda. Tapi kalau ditanya, siapa yang bisa mencintai kamu paling tulus, Bunda akan menjagokan Abang.’

Perempuan itu terenyak. Apa-apaan ini? pikirnya gusar. Jangan pernah bermimpi dia akan memilih manusia satu itu untuk dijadikan pacar. Jelas tidak mungkin.

Bunda melanjutkan dengan suara tertahan, 'Dia mencintai bukan cuma dengan hati. Tapi seluruh jiwanya. Bukan basa-basi surat cinta, bukan cuma rayuan gombal, tapi fakta. Adiknya bisa cinta sama kamu, tapi kalau kalian putus, dia dengan gampang cari lagi. Tapi Abang tidak mungkin cari yang lain. Dia cinta sama kamu tanpa pilihan. Seumur hidupnya.’

'Tapi… Bunda bukan malaikat yang bisa baca pikiran orang. Bunda tidak bisa bilang siapa yang lebih sayang sama saya. Tidak akan ada yang pernah tahu.’

Saat itu mata Bunda berkaca-kaca. Begitu juga dengan matanya. Tak lama mereka menangis berdua. Namun ia tahu perbedaannya dengan Bunda. Bagi perempuan itu, cinta tanpa pilihan adalah penjara. Ia ingin dirinya dipilih dari sekian banyak pilihan. Bukan karena ia satu-satunya pilihan yang ada.

Masih sambil berbaring, dengan punggung tangannya perempuan itu mengusap-usap rumput. Lengannya bergerak lambat dan gemulai seolah menarikan tari perpisahan. Ini akan menjadi malam Minggu terakhirnya di pekarangan serapi lapangan golf. Semalam mereka bicara bertiga. Dia, Bunda, dan si bungsu.

'Dia tidak bodoh.’

'Bunda, saya tahu dia tidak bodoh.’

'Dia akan segera tahu kalian berpacaran.’

'Bunda, lebih baik dia tahu sekarang daripada nanti setelah kami menikah.’

Bunda melengakkan kepala dengan tatapan tak percaya. 'Bagi abangmu, apa bedanya sekarang dan nanti?’

'Kami tidak mungkin sembunyi-sembunyi seumur hidup!’ Anak laki-lakinya setengah berseru.

'Kalau perlu kalian harus sembunyi-sembunyi seumur hidup!’ balas Bunda lebih tegas.

'Ini tidak adil. Ini tidak masuk akal…’ protes anaknya lagi.

'Jangan bicara soal adil dan masuk akal. Aturan kamu, aturan kita, tidak berlaku bagi dia…’ desis Bunda, 'kamu tidak tinggal di rumah ini. Kamu tidak mengenalnya seperti Bunda.’

Satu hari, pernah ada anak kos yang jahil. Dia menyembunyikan satu dari seratus sabun koleksi Abang. Bunda sedang pergi ke pasar waktu itu. Abang mengacak-acak satu rumah, lalu pergi minggat demi mencari sebatang sabunnya yang hilang. Tiga mobil polisi menelusuri kota mencari jejaknya. Baru sore hari ia ditemukan di sebuah warung. Ada sabun yang persis sama dipajang di etalase dan Abang langsung menyerbu masuk untuk mengambil. Penjaga warung menelepon polisi karena tidak berani mengusir sendiri.

Kejadian itu mengharuskan Abang diterapi selama beberapa bulan ke rumah sakit dan diberi obat-obat penenang. Bunda tahu betapa anaknya membenci rumah sakit dan obat-obatan itu hanya membuat otaknya rapuh. Tak ada yang memahami bahwa seratus sabun adalah syarat bagi anaknya untuk beroleh hidup yang wajar.

'Kamu harus tetap ke mari setiap malam minggu. Tidak bisa tidak,' kata Bunda pada perempuan itu. 'Dan selama kalian di rumah ini, kalian tidak boleh kelihatan seperti kekasih. Buat kalian mungkin tidak masuk akal. Tapi hanya dengan begitu abangmu bisa bertahan.’

Selepas berbicara dengan Bunda, mereka berbicara berdua. Mereka sepakat untuk selama-lamanya pergi dari kehidupan rumah itu. Tidak mungkin mereka terpenjara setiap minggu di sana. Mereka menolak menjadi bagian dari ritual menjerang air, cuci baju, dan seratus sabun.

Di pekarangan dengan tinggi rumput seragam, perempuan itu mengucapkan selamat tinggal di dalam hati. Persahabatan yang luar biasa ternyata mensyaratkan pengorbanan di luar batas kesanggupannya. Perempuan itu mengucap maaf berulang kali dalam hati.

Sejenak lagi, malam Minggu terakhir mereka usai.

Bunda menangisi setiap malam Minggu. Tidak pakai air mata karena ia tidak punya cukup waktu. Ia menangis cukup dalam hati.

Semua anak kos kini menyingkir jika malam Minggu tiba. Mereka tidak tahan mendengar suara lolongan, barang-barang yang diberantaki, dan seseorang yang hilir mudik gelisah mengucap satu nama seperti mantra. Menanyakan keberadaannya.

Kalau beruntung, Abang akhirnya kelelahan sendiri lalu tertidur di pangkuan ibunya. Kalau tidak, sang ibu terpaksa menutup hari anaknya dengan obat penenang.

Pada setiap penghujung malam Minggu, Bunda bersandar kelelahan dengan bulir-bulir besar peluh membasahi wajah, anaknya yang berbadan dua kali lebih besar tertidur memeluk kakinya erat-erat. Selain dengkuran dan napas anaknya yang memburu, tidak ada suara lain di rumah besar itu. Semua pergi. Dobi telah mati.

Bunda tak bisa dan tak merasa perlu mengutuk siapa-siapa. Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.

Perempuan muda itu benar. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri.

Tidak perlu ada kompetisi di sini. Ia, dan juga malaikat, tahu siapa juaranya.

Kamis, 25 Desember 2008

THESE ARE THE SPESIAL TIMES

In these m0ments, m0ments of our lives
All the world is ours, and this world is so right
You and I sharing this time together, ohh
Sharing the same dream
As time goes by we will find

These are the special times, times we'll remember
These are the precious times
The tender times, we'll hold in our hearts forever
These are the sweetest times, these times together
And through it all one thing will always be true
The special times are the times I share with you

With each m0ment, m0ment passing by
We'll make mem0ries that will last our lives
As you and I travel throui time together, ooh ooh yeah
Living this sweet dream
And every day we can say

These tender m0ments, when heaven is so close
These are the m0ments that I kn0w

THESE ARE THE SPESIAL TIMES

In these m0ments, m0ments of our lives
All the world is ours, and this world is so right
You and I sharing this time together, ohh
Sharing the same dream
As time goes by we will find

These are the special times, times we'll remember
These are the precious times
The tender times, we'll hold in our hearts forever
These are the sweetest times, these times together
And through it all one thing will always be true
The special times are the times I share with you

With each m0ment, m0ment passing by
We'll make mem0ries that will last our lives
As you and I travel throui time together, ooh ooh yeah
Living this sweet dream
And every day we can say

These tender m0ments, when heaven is so close
These are the m0ments that I kn0w

Sabtu, 13 Desember 2008

Miss World 2008

Berjuta pasang mata dunia menjadi saksi ketika Kseniya Sukhinova dari Rusia meraih mahkota Miss World 2008 di sebuah perhelatan akbar yang diadakan di Sandton Convention Centre, Johannesburg, Afrika Selatan.

Kontes ini diikuti 109 negara. Dimana kali ini menjadi rekor terbanyak sepanjang sejarah. Yang kali ini diadakan di Afrika Selatan. Sejatinya, perhelatan ini diselenggarakan di Ukraina. Karena di daerah tersebut terjadi konflik perang saudara maka tempat di alihkan ke Afrika Selatan

Dari 109 Peserta lalu dipilih 15 Besar. Dimana 5 diantaranya sudah diketahui hasilnya yaitu lewat Fast Track. Kelimabelas semifinalis yaitu: Meksiko, Rusia, Barbados, Islandia, Brazil, Venuzuela, Ukraina, Kroasia, Trinidad dan Tobago, Angola, Kazakhstan, Puerto Riko, Spanyol, Afrika Selatan, India . Lalu diambil 5 finalis yang berhak merenggut mahkota. Kelima final tersebut antara lain: India, Trinidad dan Tobago, Angola, Rusia, dan Afrika Selatan. Di babak final masing-masing finalis diberi pertanyaan yg harus dijawab. Karena dari pertanyaan itulah dapat diketahui siapa penyandang Miss World 2008

Setelah sesi terakhir, para juri melakukan diskusi utk menentukan siapa penyandang gelar Miss World. Hasil yang ditunggu-tunggu pun datang tatkala Julia Morley, ketua organisasi Miss World membawa hasilnya. Juara 3 diraih oleh Miss Trinidad dan Tobago. Sedangkan juara 2 direbut Miss India. Dan Miss World 2008 yg menggatikan Miss World 2007, Zhang Zilin adalah... Kseniya Sukhinova dari Rusia. Dengan mengenakan gaun biru merumbai-rumbai dan bermahkotakan permata nan rupawan, Miss World 2008 Kseniya Sukhinova berjalan dengan anggunnya.

Dalam acara kali ini dibawakan oleh Angela Chow dan Tumisho Masha. Dan dimeriahkan oleh cnd Internasional McFly dan penyanyi pop Inggris Alisha Dixon. Sayang dalam kontes kali ini pemenang Miss People Choice tidak diumumkan pada malam puncak karena ada kesalahan teknis. Pemenang akan diumumkan pada Senin, 15 Desember 2008 di situs resmi Miss World.

####Daftar Pemenang####

>Miss World : Kseniya Sukhinova, Rusia
>1st Runner up : Parvathy Omanakuttan, India
>2nd Runner up : Gabrielle Walcott, Trinidad dan Tobago
>Finalis
- Brigith dos Santoz, Angola
- Tansey Coetzee, Afrika Selatan
> Semifinalis
- Natalie Griffith, Barbados
- Tamara Almeida, Brazil
- Josipa Kusi, Kroasia
- Alexandra varsdttir, Islandia
- Alfina Nassyrova, Kazakhstan
- Anagabriela Espinoza, Mexico
- Ivone Orsini, Puerto Riko
- Patricia Rodrguez, Spanyol
- Irina Zhuravskaya, Ukraina
- Hannely Quintero
FAST TRACK and AWARDS
> Miss World Beach Beauty : Anagabriela Espinoza, Mexico
> Miss World Top Model : Kseniya Sukhinova, Rusia
> Miss World Sport : Alexandra varsdttir, Islandia
> Miss World Talent : Natalie Griffith, Barbados
> Beauty with a Purpose : Gabrielle Walcott, Trinidad dan Tobago
> Miss People's Choice : -
> Best World Dress Designer : USA